Irresponsible Journalism: Judul Berita Kalimat Tanya

JANGAN pernah tergoda untuk membaca berita yang judulnya berupa kalimat tanya atau menggunakan tanda tanya di akhir kalimatnya. Pasal...

Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 November 2014

Tari Jaipong ksenian Jawa Barat

Seni tari Jaipongan, sebagaimana telah kita ketahui adalah seni tarian khas Jawa Barat. Tarian ini sering disuguhkan baik untuk warga lokal pada acara kebudayaan, acara ulang tahun, penyambutan tamu, dan lain lain, Maupun untuk turis yang sedang berkunjung ke Jawa Barat untuk memperkenalkan kekayaan budaya Jawa Barat. Seni tari Jaipongan ju
ga dapat menghasilkan berbagai cabang seni lain seperti Tari Cikeruhan. Salah satu tarian rakyat yang hingga kini masih sering dipertunjukkan di Bandung.

Tarian ini lahir dan tumbuh di daerah pesisir, dan perbedaannya adalah Cikeruhan lebih atraktif dibandingkan dengan tarian lain dari Jawa Barat. Sayang sekali jika kekayaan seni tari Jaipongan ini punah karena asimilasi kebudayaan dari luar. Maka untuk melestarikannya harus ada peran aktif dari berbagai pihak, bukan cuma warga Jawa Barat, tapi semua warga Indonesia. Patut kita apresiasi untuk salah satu ajang pencarian bakat yang digelar di salah satu stasiun televisi kita, yaitu Indonesia Mencari Bakat (IMB). Dimana pada acara tersebut animo peserta yang menunjukkan bakatnya khususnya dibidang tari bisa dibilang sangat tinggi.

 Kita sebut saja Rumingkang dan Sandrina, Usia keduanya masih belia, tapi kemampuannya sudah diatas rata rata orang dewasa. Tak cuma mahir tapi juga sangat menjiwai tari sehingga pesan dari setiap gerakan sampai ke penonton. Maka dari itu patutlah kita melestarikan kebudayaan Indonesia, apapun bentuknya. Jaipongan mempunyai cirri khas yakni gaya kaleran, erotis, keceriaan, semangat, humoris, kesederhanaan dan spontanitas (alami/apa adanya). Hal itu dapat kita lihat dalam pola penyajian pertunjukkannya, diantaranya ada yang memakai atau diberi pola (Ibing Pola) contohnya pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, dan ada juga tarian yang tidak memakai / berpola (Ibing Saka), misalnya pada Seni jaipongan Subang dan Karawang. Istilah –istilah tersebut, bisa ditemukan pada Jaipongan gaya Kaleran, khususnya di daerah Kab. Subang Subang. Jaipongan gaya kaleran dalam pertunjukkan atau penyajiannya ini terbagi berbagai macam, yaitu sebagai berikut :

1) Tatalu ; 
2) Kembang Gadung 
3) Buah Kawung Gopar ; 
4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinde Tatandakan (seorang  
     Sinden tetapi tidak menyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 
5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukkan ketika para penonton (Bajidor) sawer uang 
    (Jabanan) sambil salam temple. Istilah Jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden 
    dan penonton (bajidor).

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 03.17

Tari Pendet Tari tradisonal Bali

Tari Pendet diciptakan oleh dua orang maestro tari Bali yaitu I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng pada tahun 1950. Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Menurut tradisi Bali, para penari Pendet haruslah gadis yang belum menikah, karena dalam tarian tersebut mereka membawa saji-sajian suci untuk para dewa. Namun lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah tari Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern pada tari ini adalah I Wayan Rindi  pada tahun 1967.

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya. Adapun orkes gamelan yang mengiringi tari Pendet ini ialah gamelan gong, atau gamelan palegongan, atau gamelan semar pagulingan. Tari Pendet merupakan tarian masal yang bisa dibawakan oleh empat penari, enam penari, delapan atau lebih.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 02.59