Irresponsible Journalism: Judul Berita Kalimat Tanya

JANGAN pernah tergoda untuk membaca berita yang judulnya berupa kalimat tanya atau menggunakan tanda tanya di akhir kalimatnya. Pasal...

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2014

Bung Karno Dan Perjuangan Kelas

Banyak yang menyimpulkan, termasuk di kalangan Soekarnois, bahwa Bung Karno menolak perjuangan kelas. Sebaliknya, menurut mereka, Bung Karno hanya berpegang pada revolusi nasional.

Betulkah Bung Karno menolak perjuangan kelas? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mengajukan beberapa penjelasan:

Pertama, mari memeriksa pemahaman Bung Karno terkait kapitalisme dan kontradiksi kelas di dalamnya. Dalam berbagai risalahnya Bung Karno selalu menempatkan sistim kapitalisme sebagai akar persoalan yang melahirkan kepincangan atau penghisapan manusia atas manusia di dalam masyarakat.

Dalam risalahnya di tahun 1932, Kapitalisme Bangsa Sendiri, Bung Karno mendefenisikan kapitalisme sebagai berikut: “stelsel pergaulan hidup yang timbul daripada corak produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi.” Akibatnya, kata Bung Karno, meerwaarde (nilai tambah) tidak jatuh ke tangan kaum buruh, melainkan ke tangan kaum majikan.

Dalam konteks itulah, Bung Karno melihat kapitalisme cenderung melahirkan “verelendung” (pemiskinan) terhadap massa rakyat, terutama kaum buruh. Dalam konteks lebih jauh, karena didorong oleh persaingan merebut pasar dan akses bahan baku, kapitalisme juga melahirkan peperangan. Tak hanya itu, kapitalisme juga melahirkan imperialisme modern, yang menyebabkan bangsa-bangsa jajahan makin sengsara.

Kalau kita lihat, Bung Karno sangat menyadari adanya pertentangan kepentingan antara kaum buruh dan majikan. “..bahwa di seluruh sejarah umat manusia selalu ada pertentangan. Selalu ada kelassenstrijd (pertentangan kelas). Dulu di zaman feodal, pertentangan kelas antara kaum feodal dengan kaum yang difeodali. Di dalam alam kapitalisme juga ada pertentangan kelas antara kelas kapitalis dengan kelas proletar,” kata Bung Karno dalam Kuliah Umum tentang Pancasila, di Jogjakarta, 1958.

Kedua, Bung Karno menyadari bahwa penggulingan sistim kapitalisme merupakan prasyarat mutlak untuk mengakhiri kepincangan dan ketidakadilan di dalam masyarakat. Ia selalu menekankan bahwa tujuan pergerakan rakyat Indonesia mestilah mengarah pada suatu masyarakat zonder (tanpa) kapitalisme dan imperialisme.

Namun, Bung Karno sadar, perjuangan itu tidaklah mudah dan selamanya berlangsung damai. Ia berulang-kali mengutip Karl Marx, “tidak ada suatu kelas yang mau melepaskan hak-hak istimewanya dengan kemauan sendiri.” Artinya, penggulingan kapitalisme mengisyaratkan jalan radikal, yakni penggulingan kelas borjuis oleh kelas proletar yang beraliansi dengan kelas tertindas lainnya.

Karena itu, Bung Karno memformulasikan “machtvorming”, yakni strategi pengakumulasian kekuatan, untuk memaksa kelas penindas bertekuk lutut atau dihancurkan. Dengan jalan inilah masyarakat adil makmur alias masyarakat tanpa kapitalisme/imperialisme bisa diwujudkan.

Ketiga, Bung Karno mengakui tugas historis dan kepeloporan kelas proletar dalam menggulingkan kapitalisme. Di dalam risalah Marhaen dan Proletar, Bung Karno terang-terangan bilang: “bahwa di dalam perjuanngan bersama daripada kaum Proletar dan kaum Tani dan kaum melarat lain-lain itu, kaum Proletarlah mengambil bagian yang besar sekali: Marhaen seumumnya sama berjuang, Marhaen seumumnya sama merebut hidup, Marhaen seumumnya sama berikhtiar mendatangkan masyarakat yang menyelamatkan Marhaen seumumnya pula –namun kaum Proletar yang mengambil bagian yang besar sekali.”

Terkait pengakuan terhadap kepeloporan proletar, Bung Karno punya argumentasi sangat kuat. Menurutnya, klas proletar merupakan klas yang dihasilkan langsung oleh kapitalisme. Hidup dan matinya kapitalisme berada di genggaman kaum proletar, kata Bung Karno. Tak mengherankan, klas buruh itu punya jiwa dan perasaan anti-kapitalisme.

Bung Karno kemudian menegaskan, dalam perjuangan menentang kapitalisme, kaum buruh menjadi pemegang panji-panji revolusi sosial. Itulah yang disebut oleh Bung Karno, yang mengutip Karl Marx, sebagai “keharusan sejarah”, bahwa memang sudah takdir historisnya kaum buruh berada di garda depan menentang kapitalisme.

Keempat, kesadaran Bung Karno bahwa kekuasaan harus di tangan kelas marhaen dan proletar. Bung Karno selalu menegaskan bahwa kekuasaan setelah Indonesia Merdeka haruslah di tangan kaum marhaen—yang di dalamnya juga terdapat kaum buruh.

Bung Karno banyak belajar dari pengalaman kegagalan revolusi di sejumlah negara di Eropa, terutama Perancis. Di sana, kaum borjuis mengajak kaum proletar dan rakyat jelata lainnya dalam persatuan di bawah slogan di bawah slogan kebebasan (liberté), persamaan (egalité) dan persaudaraan (fraternité), untuk menggulingkan kekuasaan feodal. Ironisnya, begitu berada di tampuk kekuasaan, kaum borjuis berkuasa sendiri dengan menyingkirkan kaum proletar dan rakyat jelata lainnya.

Karena itu, Bung Karno tidak ingin kenyataan pahit revolusi Perancis terulang di dalam revolusi Indonesia. Dalam risalahnya terkenal, Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Bung Karno mengidamkan sebuah model kekuasaan rakyat, dimana semua urusan politik dan ekonomi berada di tangan rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Artinya, dengan berbicara kekuasaan di tangan rakyat, dalam hal ini di tangan kaum marhaen dan proletar, Bung Karno sudah berbicara mengenai kekuasaan di tangan sebuah klas. Ia menolak borjuisme dan keningratan, tetapi memihak kelas marhaen dan proletar.

Kelima, Marhaenisme sebagai sebuah analisa kelas. Ketika berbiacara marhaenisme, Bung Karno sebetulnya sedang menggunakan analisa kelas untuk membedah susunan sosial masyarakat Indonesia.

Bung Karno melihat, di eropa yang sudah mengalami revolusi Industri, kapitalisme membelah masyarakat menjadi dua kelas: borjuis dan proletar. Namun, ketika berbicara konteks Indonesia (saat itu masih Hindia-Belanda), kapitalisme yang berkembang melalui pencangkokan oleh kolonialisme Belanda tidak melahirkan pembelahan sosial yang tajam seperti di Indonesia.

Kenapa bisa begitu? Di eropa, kapitalisme yang berkembang adalah kapitalisme yang sudah mengalami “mechanische dan industrieele revolutie” (revolusi industri dan sudah termekanisasi). Sehingga yang berkembang di eropa adalah kapitalisme kepabrikan. Inilah yang melahirkan proletar murni.

Sebaliknya, di Indonesia, kapitalisme yang berkembang tercangkokkan oleh kolonialisme. Ironisnya, Belanda sendiri belum mengalami revolusi Industri kala itu. Sebagian besar kapital Belanda adalah “kapital finance” yang digelontorkan di sektor pertanian dan perkebunan. Akibatnya, yang berkembang di Indonesia adalah kapitalisme pertanian, yang hanya menghasilkan limpahan kaum tani melarat.

Bung Karno, yang mengutip Marx, mendefenisikan proletar sebagai orang yang tidak punya alat produksi dan, karena itu, menjual tenaga kerjanya pada orang lain/majikan/kapitalis. Dari menjual tenaga kerjanya itulah ia mendapat upah untuk membiayai kebutuhan hidupnya.

Masalahnya, di Indonesia, kendati jumlah kaum melarat melimpah ruah, tetapi mereka tidak bisa dikatakan proletar. Sebab, mereka masih memiliki alat produksi, kendati dalam bentuk kecil/subsisten. Dalam perkembangannya, Bung Karno menamai pemilik produksi kecil-kecil dengan sebutan “marhaen”. Jadi, marhaen adalah pemilik produksi kecil, dengan alat-alat kerja yang sederhana, tidak memperjakan orang lain, dan hasil produksinya pun hanya cukup untuk dirinya dan keluarganya.

Keenam, penekanan kepada revolusi nasional sebagai taktik politik menuju sosialisme. Jadi, dengan membaca hukum perkembangan masyarakat dan situasi objektif masyarakat Indonesia, Bung Karno berkesimpulan bahwa revolusi Indonesia mesti melalui dua tahap yang berkelanjutan, yakni revolusi nasional-demokratis dan revolusi sosialis.

Saat itu Indonesia masih terbelenggu oleh kolonialisme dan feodalisme. Kedua sistim itu merintangi bangsa ini menuju kemajuan. Karena itu, pada tahap awal, tugas pergerakan rakyat Indonesia adalah melakukan pembebasan nasional untuk mengusir kolonialisme. Di sisi lain, juga melakukan penghancuran terhadap sisa-sisa budaya feodal. Inilah yang disebut revolusi nasional-demokratis.

Dalam tahap ini, menurut Bung Karno, musuh pokok revolusi adalah kolonialisme dan feodalisme. Sebaliknya, kata dia, tenaga pokok revolusi nasional berasal dari dua kekuatan besar: pertama, rakyat jelata, khususnya kaum buruh dan marhaen, yang dihisap oleh kolonialisme/imperialisme dan feodalisme; kedua, kapitalis nasional yang membutuhkan ruang untuk tumbuh dengan mengusir kapitalis asing.  Kedua golongan ini, kata Bung Karno, akan dipersatukan di bawah panji-panji “persatuan nasional”.

Nah, dalam konteks itulah Bung Karno menyerukan untuk tidak meruncingkan perjuangan kelas. Sebab, peruncingan perjuangan kelas akan memecah belah kekuatan-kekuatan yang mestinya disatukan dalam persatuan nasional, terutama kapitalis nasional.

Meski demikian, bukan berarti Bung Karno mengingkari perlunya penentangan terhadap kapitalis bangsa sendiri. Dalam risalah “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, Bung Karno menegaskan sikapnya bahwa kaum marhaen harus juga melawan kapitalisme bangsa sendiri.

Hanya saja, dalam tahap perjuangan pembebasan nasional, ia menghimbau kaum marhaen dan proletar untuk tidak mengutamakan perjuangan kelas. Sebaliknya, ia menganjurkan perjuangan nasional. Bung Karno sadar, bagi negara jajahan seperti Indonesia (Hindia-Belanda kala itu), kontradiksi pokoknya adalah antara nation terjajah melawan penjajah.

Yang menarik, kendati menganjurkan penekanan pada perjuangan nasional, Bung Karno tidak menghalangi kelas buruh mengasah kesadaran kelasnya. “Kita harus malahan harus membuat kaum buruh dan tani klasse bewust (berkesadaran kelas). Oleh karena, justru dalam penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur, kaum buruh dan tanilah yang harus menjadi motor,” kata Bung Karno saat penutupan Kongres Nasional ke-VI PKI, tahun 1959.

Ketujuh, Sosio-demokrasi dan sosio-nasionalisme sebagai jalan penghapusan kapitalisme/imperialisme.

Ini yang menarik dari gagasan Bung Karno. Sejak awal ia menyatakan kemerdekaan nasional sebagai tujuan akhir, melainkan “jembatan emas” menuju cita-cita yang lebih tinggi, yakni masyarakat adil dan makmur.

Dua ajaran inilah, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi, yang menjadi pagar bagi perjuangan bangsa Indonesia agar tidak tergelincir dalam bentuk kekuasaan borjuis maupun kaum ningrat.

Sosio-nasionalisme adalah nasionalisme yang memihak massa-rakyat. Ia menentang borjuisme dan keningratan. Dan karenanya, sosio-nasionalisme adalah nasionalisme yang anti-kapitalisme dan anti-feodalisme. Sosio-nasionalisme mencegah Indonesia merdeka tergelincir ke nasionalisme chauvinis ataupun nasionalisme borjuis.

Sementara sosio-demokrasi adalah demokrasi yang mengawinkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Di lapangan politik, ajaran sosio-demokrasi menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan sekaligus menjalankannya. Sementara di lapangan ekonomi, sosio-demokrasi menghendaki pemilikan alat-alat produksi di tangan rakyat.

Sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi akan memberikan koridor bagi Indonesia Merdeka agar tidak tergelincir ke jalan kapitalisme, apalagi feodalisme, melainkan bergerak menuju ke masyarakat adil dan makmur alias masyarakat tanpa kelas.

Jadi, Bung Karno membayangkan, Indonesia merdeka bukanlah negara borjuis, juga bukan negara monarki-feodal, tetapi negara yang sedang mengalami transisi menuju sosialisme. Dan saya kira, inilah yang menarik: Bung Karno membayangkan perjuangan nasional Indonesia, yang disuluhi oleh sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi, akan menuju masyarakat sosialis.

Dalam konteks inilah, saya kira, kenapa Bung Karno tidak begitu banyak bicara soal keharusan perjuangan kelas. Pertama, perjuangan nasional bangsa Indonesia punya karakter anti-borjuisme dan anti-ningrat yang kuat. Kedua, perjuangan nasional Indonesia punya keberpihakan kelas yang jelas dan tegas, yakni kepada kaum marhaen alias rakyat tertindas. Ketiga, perjuangan nasional Indonesia punya cita-cita melikuidasi kapitalisme/imperialisme sebagai basis menuju masyarakat adil dan makmur.

   Baca selengkapnya di http://www.berdikarionline.com/

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 12.44

Prabu Siliwangi dan Mitos Maung Dalam Masyarakat Sunda

Ilustrasi
Dalam khazanah kebudayaan masyarakat tatar Sunda, maung atau harimau merupakan simbol yang tidak asing lagi. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol
maung, baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi, hingga julukan bagi klub sepak bola kebanggaan warga kota Bandung (Persib) yang sering dijuluki Maung Bandung. Lantas, bagaimana asal-muasal melekatnya simbol maung pada masyarakat Sunda? Apa makna sesungguhnya dari simbol hewan karnivora tersebut?

Maung dan Legenda Siliwangi

Dunia keilmuan Antropologi mengenal teori sistem simbol yang diintrodusir oleh Clifford Geertz, seorang Antropolog Amerika. Dalam bukunya yang berjudul Tafsir Kebudayaan (1992), Geertz menguraikan makna dibalik sistem simbol yang ada pada suatu kebudayaan. Antropolog yang terkenal di tanah air melalui karyanya “Religion of Java” itu menyatakan bahwa sistem simbol merefleksikan kebudayaan tertentu. Jadi, bila ingin menginterpretasi sebuah kebudayaan maka dapat dilakukan dengan menafsirkan sistem simbolnya.

Sistem simbol sendiri merupakan salah satu dari tiga unsur pembentuk kebudayaan. Kedua unsur lainnya adalah sistem nilai dan sistem pengetahuan. Menurut Geertz, relasi dari ketiga sistem tersebut adalah sistem makna (System of Meaning) yang berfungsi menginterpretasikan simbol dan, pada akhirnya, dapat menangkap sistem nilai dan pengetahuan dalam suatu kebudayaan.

Simbol maung dalam masyarakat Sunda terkait erat dengan legenda menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran yang dipimpinnya pasca penyerbuan pasukan Islam Banten dan Cirebon yang juga dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi. Konon, untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam, Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang masih setia memilih untuk tapadrawa di hutan sebelum akhirnya nga-hyang. Berdasarkan kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Sunda, sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang bersama para pengikutnya, beliau meninggalkan pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai “wangsit siliwangi”.

Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda adalah: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung”[1]. Ada hal menarik berkaitan dengan kata-kata dalam wangsit tersebut: kata-kata itu termasuk kategori bahasa sunda yang kasar bila merujuk pada strata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sunda Priangan (Undak Usuk Basa). Mengapa seorang raja berucap dalam bahasa yang tergolong “kasar”? Bukti sejarah menunjukkan bahwa kemunculan undak usuk basa dalam masyarakat Sunda terjadi karena adanya hegemoni budaya dan politik Mataram yang memang kental nuansa feodal, dan itu baru terjadi pada abad 17—beberapa sekian abad pasca Prabu Siliwangi tiada atau nga-hyang. Namun tinjauan historis tersebut bukanlah bertujuan melegitimasi wangsit itu sebagai kenyataan sejarah. Bagaimanapun, masih banyak kalangan yang mempertanyakan validitas dari wangsit itu sebagai fakta sejarah, termasuk penulis sendiri.

Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bermetamorfosa menjadi maung (harimau) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara. Yang menjadi pertanyaan besar: apakah memang pernyataan atau wangsit Siliwangi itu bermakna sebenarnya ataukah hanya kiasan? Realitasnya, hingga kini masih banyak masyarakat Sunda (bahkan juga yang non-Sunda) meyakini metamorfosa Prabu Siliwangi menjadi harimau. Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.

Dari sini kita melihat terungkapnya sistem nilai dari simbol maung dalam masyarakat Sunda. Ternyata maung yang memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan sebelumnya menyimpan suatu tata nilai yang terdapat pada kebudayaan masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan aspek perilaku (behaviour).

Kisah lain yang berkaitan dengan menjelmanya Prabu Siliwangi menjadi harimau adalah legenda hutan Sancang atau leuweung Sancang di Kabupaten Garut. Konon di hutan inilah Prabu Siliwangi beserta para loyalisnya menjelma menjadi harimau atau maung. Proses penjelmaannya pun terdapat dalam beragam versi. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, ada yang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi menjelma menjadi maung setelah menjalani tapadrawa. Tetapi ada pula sebagian masyarakat Sunda yang berkeyakinan bila Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi harimau karena keteguhan pendirian mereka untuk tidak memeluk agama Islam. Menurut kisah tersebut, Prabu Siliwangi menolak bujukan putranya yang telah menjadi Muslim, Kian Santang, untuk turut memeluk agama Islam. Keteguhan sikap itu yang mendorong penjelmaan Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi maung. Akhirnya, Prabu Siliwangi pun berubah menjadi harimau putih, sedangkan para pengikutnya menjelma menjadi harimau loreng.

Hingga kini kisah harimau putih sebagai penjelmaan Siliwangi itu masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat di sekitar hutan Sancang. Bahkan, kisah ini menjadi semacam kearifan lokal (local wisdom). Menurut masyarakat di sekitar hutan, bila ada pengunjung hutan  yang berperilaku buruk dan merusak kondisi ekologis hutan, maka ia akan “berhadapan” dengan harimau putih yang tak lain adalah Prabu Siliwangi. Tidak masuk akal memang, namun di sisi lain, hal demikian dapat dipandang sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang berhubungan dengan ekologi. Masyarakat leuweung Sancang telah menyadari arti pentingnya keseimbangan ekosistem kehutanan, sehingga diperlukan instrumen pengendali perilaku manusia yang seringkali berhasrat merusak alam. Dan mitos harimau putih jelmaan Siliwangi lah yang menjadi instrumen kontrol sosial tersebut.

Namun, serangkaian kisah yang mendeskripsikan korelasi antara Prabu Siliwangi dengan mitos maung itu tetap saja menyisakan pertanyaan besar, apakah itu semua merupakan fakta sejarah? Siapa Prabu Siliwangi sebenarnya dan darimanakah mitos maung itu muncul pertama kali?

Kekeliruan Tafsir

Bila kita telusuri secara mendalam, niscaya tidak akan ditemukan bukti sejarah yang menghubungkan Prabu Siliwangi atau Kerajaan Pajajaran dengan simbol harimau. Adapun yang mengatakan bahwa harimau pernah menjadi simbol Pajajaran adalah salah satu tokoh Sunda sekaligus orang dekat Otto Iskandardinata (Pahlawan Nasional), Dadang Ibnu. Tetapi, lagi-lagi, tidak ada bukti sejarah Sunda yang dapat memperkuat hipotesa ini, baik itu Carita Parahyangan, Siksakanda Karesian, ataupun Wangsakerta. Bahkan mengenai lambang Kerajaan Pajajaran pun masih debatable, dikarenakan ada beragam versi lain yang mengemuka menyangkut lambang Pajajaran.[2]

Problem lain yang muncul berkaitan dengan kebenaran sejarah “maung Siliwangi” tersebut ialah rentang waktu yang cukup jauh antara masa ketika Prabu Siliwangi hidup dan memerintah dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran yang dalam mitos maung berakhir dengan penjelmaan Siliwangi dan para pengikut Pajajaran menjadi harimau di hutan Sancang. Penting untuk diketahui bahwa secara etimologis, Siliwangi, yang terdiri dari dua suku kata yaitu Silih (pengganti) dan Wangi, bermakna sebagai pengganti Prabu Wangi. Menurut para pujangga Sunda di masa lampau, Prabu Wangi merupakan julukan bagi Prabu Niskala Wastukancana yang berkuasa di Kerajaan Sunda-Galuh (ketika itu belum bernama Pajajaran) pada tahun 1371-1475. Lalu, nama Siliwangi yang berarti pengganti Prabu Wangi merupakan julukan bagi Prabu Jayadewata, cucu Prabu Wastukancana. Prabu Jayadewata yang berkuasa pada periode 1482-1521 dianggap mewarisi kebesaran Wastukancana oleh karena berhasil mempersatukan kembali Sunda-Galuh dalam satu naungan kerajaan Pajajaran.[3] Sebelum Prabu Jayadewata berkuasa, Kerajaan Sunda-Galuh sempat terpecah. Putra Wastukancana (sekaligus ayah Prabu Jayadewata), Prabu Dewa Niskala, hanya menjadi penguasa kerajaan Galuh.

Dipersatukannya kembali Sunda dan Galuh oleh Jayadewata, membuat beliau dipandang mewarisi kebesaran kakeknya, Prabu Wastukancana alias Prabu Wangi. Maka, para sastrawan atau pujangga Sunda ketika itu memberikan gelar Siliwangi bagi Prabu Jayadewata. Siliwangi memiliki arti pengganti atau pewaris Prabu Wangi. Jadi, raja Sunda Pajajaran yang dimaksud dalam sejarah sebagai Prabu Siliwangi adalah Prabu Jayadewata yang berkuasa dari tahun 1482-1521.

Lalu kapan sebenarnya Kerajaan Pajajaran runtuh? Apakah pada masa Prabu Jayadewata atau Siliwangi? Ternyata, sejarah mencatat ada lima raja lagi yang memerintah sepeninggal Prabu Jayadewata.[4] Berikut ini periodisasi penerintahan raja-raja Pajajaran pasca wafatnya Jayadewata alias Siliwangi :

1.)   Prabu Surawisesa (1521-1535)

2.)   Prabu Ratu Dewata (1535-1543)

3.)   Ratu Sakti (1543-1551)

4.)   Prabu Nilakendra (1551-1567)

5.)   Prabu Raga Mulya (1567-1579)

Pada masa pemerintahan Raga Mulya lah, tepatnya tahun 1579, Kerajaan Pajajaran mengalami kehancuran akibat serangan pasukan Kesultanan Banten yang dipimpin Maulana Yusuf.[5] Peristiwa tersebut tercatat dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219, sebagai berikut :

Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa punjul siki ikang cakakala.

Artinya :

Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 Mei 1579 M.

Kemudian bagaimana nasib Prabu Mulya? Sumber yang sama menyatakan bahwa Prabu Raga Mulya beserta para pengikutnya yang setia tewas dalam pertempuran mempertahankan ibukota Pajajaran yang ketika itu telah berpindah ke Pulasari, kawasan Pandeglang sekarang. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa keruntuhan kerajaan Pajajaran terjadi pada tahun 1579 atau 58 tahun setelah Prabu Siliwangi wafat. Berarti Prabu Siliwangi tidak pernah mengalami keruntuhan Kerajaan yang telah dipersatukannya. Raja yang mengalami kehancuran Kerajaan Pajajaran adalah Prabu Raga Mulya yang merupakan keturunan kelima Prabu Siliwangi atau janggawareng[6] nya Prabu Siliwangi. Sementara Prabu Raga Mulya sendiri gugur dalam perang mempertahankan kedaulatan negerinya dari agresi Banten. Jadi, raja Pajajaran terakhir ini memang nga-hyang, namun bukan menjadi maung sebagaimana diyakini masyarakat Sunda selama ini melainkan gugur di medan tempur. Dari serangkaian bukti sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa mitos penjelmaan Prabu Siliwangi dan sisa-sisa prajurit Pajajaran menjadi harimau hanya sekedar mitos dan bukan fakta sejarah.

Bila bukan fakta sejarah, darimana sebenarnya mitos maung yang selalu melekat pada kisah Siliwangi dan Pajajaran itu berasal? Pertanyaan ini dapat menemukan titik terang bila meninjau laporan ekspedisi seorang peneliti Belanda, Scipio, kepada Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs, mengenai jejak sejarah istana Kerajaan Pajajaran di kawasan Pakuan (daerah Batutulis Bogor sekarang). Laporan penelitian yang ditulis pada tanggal 23 Desember 1687 tersebut berbunyi “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort”, yang artinya: bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja “Jawa” Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau. Bahkan kabarnya salah satu anggota tim ekspedisi Scipio pun menjadi korban terkaman harimau ketika sedang melakukan tugasnya.

Temuan lapangan ekspedisi Scipio itu mengindikasikan bahwa kawasan Pakuan yang ratusan tahun sebelumnya merupakan pusat kerajaan Pajajaran telah berubah menjadi sarang harimau. Hal inilah yang menimbulkan mitos-mitos bernuansa mistis di kalangan penduduk sekitar Pakuan mengenai hubungan antara keberadaan harimau dan hilangnya Kerajaan Pajajaran. Berbasiskan pada laporan Scipio ini, dapat disimpulkan bila mitos maung lahir karena adanya kekeliruan sebagian masyarakat dalam menafsirkan realitas.

Sesungguhnya, keberadaan harimau di pusat Kerajaan Pajajaran bukanlah hal yang aneh, mengingat kawasan tersebut sudah tidak berpenghuni pasca ditinggalkan sebagian besar penduduknya di penghujung masa kekuasaan Prabu Nilakendra—ratusan tahun sebelum tim Scipio melakukan ekspedisi penelitian.[7] Sepeninggal para penduduk dan petinggi kerajaan, wilayah Pakuan berangsur-angsur menjadi hutan. Bukanlah suatu hal yang aneh bila akhirnya banyak harimau bercokol di kawasan yang telah berubah rupa menjadi leuweung tersebut.

Kesimpulan

Mitos maung yang dilekatkan pada sejarah Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran pun sudah terpatahkan oleh serangkaian bukti dan catatan sejarah yang telah penulis uraikan. Memang sebagai sebuah sistem simbol, maung telah melekat pada kebudayaan masyarakat Sunda. Simbol dan mitos maung juga menyimpan filosofi serta berfungsi sebagai sistem pengetahuan masyarakat berkaitan dengan lingkungan alam. Hal demikian tentu harus kita apresiasi sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Sunda.

Namun sebagai sebuah fakta sejarah, identifikasi maung sebagai jelmaan Prabu Siliwangi dan pengikutnya merupakan kekeliruan dalam menafsirkan sejarah. Hal inilah yang perlu diluruskan agar generasi berikutnya, khususnya generasi baru etnis Sunda, tidak memiliki persepsi yang keliru dengan menganggap mitos maung Siliwangi sebagai realitas sejarah.

Kekeliruan mitos maung hanya salah satu dari sekian banyak ”pembengkokkan” sejarah di negeri ini yang perlu diluruskan. Hendaknya kita jangan takut menerima realitas sejarah yang mungkin berlawanan dengan keyakinan kita selama ini, karena sebuah bangsa yang tidak takut melihat kebenaran masa lalu dan berani memperbaikinya demi melangkah menuju masa depan akan menjelma menjadi bangsa yang memiliki kepribadian tangguh. Terima kasih.

 Selengkapnya :http://www.berdikarionline.com

Sampurasun..

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 12.38

Selasa, 22 April 2014

PEPATAH kOLOT BAHEULA (SUNDA)


Nu lain kudu dilainkeun nu enya kudu dienyakeun 
(speak the truth nothing but the truth)
Kudu paheuyeuk- heuyeuk leungeun paantay-antay tangan 
(saling bekerjasama membangun kemitraan yang kuat).
Ulah taluk pedah jauh tong hoream pedah anggang jauh kudu dijugjug anggang kudu diteang 
( maju terus pantang mundur ).
Ka cai jadi saleuwi kadarat jadi salogak
( solid / Kompak/ team work ).
Sacangreud pageuh sagolek pangkek
(Commitment, menepati janji & consitent).
 Ulah lunca linci luncat mulang udar tina tali gadang, omat ulah lali tina purwadaksina
( integritas harus mengikuti etika yang ada)
Nyaur kudu diukur nyabda kudu di unggang
( communication skill, berbicara harus tepat, jelas, bermakna.. tidak asbun )
 Ngeduk cikur kedah mihatur nyokel jahe kedah micarek 
(Trust – ngak boleh korupsi, maling, nilep, dlsb… kalo mo ngambil sesuatu harus seijin yg punya).
Kudu hade gogod hade tagog
(Appearance harus dijaga agar punya performance yg okeh dan harus consitent dengan perilakunya  *John Robert Power melakukan training ini mereka punya Personality Training, dlsb).
Kudu silih asih, silih asah jeung silih asuh
( harus saling mencintai, memberi nasihat dan mengayomi ).
Pondok jodo panjang baraya
(siapapun walaupun bukan jodo kita tetap persaudaraan harus tetap dijaga)
Ulah ngaliarkeun taleus ateul 
(jangan menyebarkan isu hoax, memfitnah, dlsb).
Bengkung ngariung bongok ngaronyok
(team works & solidarity dalam hal menghadapi kesulitan/ problems/ masalah harus di solve bersama).
Bobot pangayun timbang taraju 
(Logic, semua yang dilakukan harus penuh pertimbangan fairness, logic, common sense, dlsb)
Lain palid ku cikiih lain datang ku cileuncang 
(Vision, Mission, Goal, Directions, dlsb… kudu ada tujuan yg jelas sebelum melangkah).
Kudu nepi memeh indit 
(Planning & Simulation… harus tiba sebelum berangkat, make sure semuanya di prepare dulu).
Taraje nangeuh dulang pinande 
(setiap tugas harus dilaksanakan dengan baik dan benar).
Ulah pagiri- giri calik, pagirang- girang tampian
(jangan berebut kekuasaan).
Ulah ngukur baju sasereg awak 
(Objektivitas, jangan melihat dari hanya kaca mata sendiri).
Ulah nyaliksik ku buuk leutik 
(jangan memperalat yang lemah/ rakyat jelata)
Ulah keok memeh dipacok
(Ksatria, jangan mundur sebelum berupaya keras).
Kudu bisa kabulu kabale 
(Gawul, kemana aja bisa menyesuaikan diri).
Mun teu ngopek moal nyapek, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih 
(Research & Development, Ngulik, Ngoprek, segalanya harus pakai akal dan harus terus di ulik, di teliti, kalo sudah diteliti dan dijadikan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan).
Cai karacak ninggang batu laun laun jadi dekok 
(Persistent, keukeuh, semangat pantang mundur).
Neangan luang tipapada urang 

(Belajar mencari pengetahuan dari pengalaman orang lain

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 15.58

Kamis, 03 April 2014

Asal Muasal Kampung Cibubuay


Kisah asal muasal kampung CIBUBUAY, di bawah kampung Cibubuay terdapat aliran air yangbegituh besar jika datangnya air hujan, yang di namakan dengan sebutan air cimandiri. Dari duludi jaman era nenek moyang tempat yang sekarang yangg di tempati oleh air cimandiri adalah perkampung, yang begituh indah,ramai,tentram,dan penuh ke gegmbiraan dan penuh kebahagian, tapi sayang di balik semua kebahagian itu terjadilah suatu petaka yang di mana ada seglintiran orang orang yang syirik terhadap kampung Cibubuay.dulu air cimandir asal mulanya dari kamputetangga,yaitu dari kampung Bantar henca, karena mereka tidak suka dengan keindahan kampung Cibubuay maka terjadilah bencana banjir yangg akhirnya kampung indah itu terendam air, beberapa hari kemudian semua masykat yang ada di kampung Cibubuay berpindah ke sebuah pegunungan yang dimana sekarang menjadi kampung yang begituh luas dan semakin indah,di tambh lagi dengan adanya pegunungan dan persawahan dan dengan adanya aliran air ci mandiri dan timbulah pasir yg semkin memperkuat ke indahan kampung Cibubuay dengan has alamiah, singkat ceritana kampung Cibubuay yang sekarang menjadi kampung yang begituh banyak penduduknya dulu  adalah sebuah pegunungan yang bisa di bilang begituh angkeur, tetapi dengan bergantinya zaman sekarang pegunungan yang dahulunya menyeramkan menjadi sebuah perkampung yang begituh indah, jika anda ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang kampung Cibubuy berkunjunglah ke kampung Cibubuay, almat kampung Cibubuay Desa Cibuntu kecamatan Simpenan, kabupaten Sukabumi, ibu kota palabuhan ratu.

        Penulis : Arief Salamina Dgn Mu


Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 06.38