Irresponsible Journalism: Judul Berita Kalimat Tanya

JANGAN pernah tergoda untuk membaca berita yang judulnya berupa kalimat tanya atau menggunakan tanda tanya di akhir kalimatnya. Pasal...

Tampilkan postingan dengan label KULINER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KULINER. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Warung di Gili Trawangan yang Mendunia


Warung sederhana itu terletak persis di depan pasar yang tak kalah sederhananya pula. Namun warung bersahaja yang dikelola Ibu Dewi itu begitu populer. Tak sekadar terkenal di kalangan warga setempat, namun juga mendunia.

Warung Ibu Dewi berada di Pulau Gili Trawangan, sebuah pulau wisata primadona Nusa Tenggara Barat. Wisatawan yang datang ke warung ini tak hanya didominasi turis domestik, tetapi juga turis asing. Padahal, menu yang dijual di warung ini khas tradisional.

Jadinya, warung ini ibarat oase di tengah-tengah banyaknya restoran dan cafe yang didominasi dengan menu-menu barat. Harganya tentu saja bersahabat. Dengan uang Rp 15.000 pun, tamu sudah bisa kenyang. Tetapi menu yang wajib dicoba adalan Nasi Rawon.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 13.22

Minggu, 14 Desember 2014

Ketika Lele Diolah Jadi Berbagai Panganan


Selama ini ikan lele hanya dimasak dengan cara biasa yakni digoreng. Tetapi di tangan Lusia Irawati, warga Gang Matrix Jalan Letjen Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur, ikan lele berhasil diolah menjadi berbagai macam panganan. 

Sebut saja seperti nugget, stik duri, abon, hingga pastel kering. Sejak membuka usaha makanan dari bahan ikan lele pada bulan September lalu, kini Lusi sapaan Lusia Irawati, bisa meraupun keuntungan hingga Rp 12 juta setiap bulan. 

“Awalnya saya hanya ternak lele biasa, dan memasarkan langsung ke pasar. Tetapi saya rugi karena harganya fluktuatif,” kenang dia, saat ditemui di rumahnya Sabtu (13/12/2014). 

Lusi kemudian berpikir untuk mengolah lele tersebut menjadi berbagai macam panganan. “Lele ini pada dasarnya kaya akan gizi, sebab ada omega tiga, protein, kalsium di tulangnya, dan non kolesterol, tidak kalah dengan ikan Salmon. Selain itu harganya juga lebih murah,” katanya. 

Olahan dari bahan dasar ikan lele yang pertama dibuat Lusi adalah nugget. Ia mengungkapkan bahwa selama ini nugget selalu berbahan dasar daging sapi atau ayam. 

"Nah saya coba buat nugget ikan lele, dan rupanya banyak berminat,” katanya. 

Setelah nugget, Lusi kemudian mencoba membuat inovasi panganan lainnya dari bahan ikan lele. Ia merasa sayang jika duri ikan lele dibuang begitu saja. Padahal duri ikan lele kaya akan kalsium. Akhirnya ia pun berusaha mengolah
lagi, hingga akhirnya menghasilkan stik duri ikan lele. Usaha tersebut rupanya berhasil, sebab banyak konsumen Lusi yang tertarik untuk memesan stik duri lele itu.

“Saya selama ini pasarkan produk makanan yang saya buat dengan menggunakan online, dan rupanya banyak juga yang pesan ternyata,” katanya. 

Selain nugget dan stik duri ikan lele, Lusi juga membuat abon dan pastel kering dari bahan dasar ikan lele. Dari sekian panganan, produk yang paling banyak dipesan oleh konsumen adalah abon, stik duri, dan pastel kering. 

"Apalagi menjelang natal ini, banyak yang memesan,” imbuhnya. 

Salah satu konsumen Lusi, Hamka, mengaku sangat suka dengan nugget dan pastel ikan lele. “Jadi lebih terasa daging lelenya, selain itu gurih dan lezat. Anak saya sangat suka, makanya saya langsung beli ke sini,” terang dia. 

Saat ini lanjut Lusi, dia masih berusaha melakukan inovasi dengan membuat kerupuk dari bahan kulit ikan lele. “Ini yang masih saya berusaha, sebab masih belum berhasil buat kerupuk rambak dari kulit ikan lele,” akunya.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 12.55

Sabtu, 13 Desember 2014

Wisata Kuliner sKota Sukabumi


Kurang afdol rasanya jika kita mengunjungi suatu kota tanpa mencicipi makanan legendaris kota tersebut. Dalam mengisi libur Idul Fitri kali ini TGB berkesempatan untuk berkunjung ke rumah nenek yang bertempat di Kota Sukabumi. Kesempatan tersebut tidak TGB sia-sia kan untuk mencoba beberapa makanan khas kota Sukabumi yang sudah melegenda. Bahkan banyak yang mengatakan kalau belum mencoba makanan dibawah ini rasanya belum ke Sukabumi.

1. Bubur Ayam Bunut

Tak Sekedar Menyajikan Bubur Ayam Khas Sukabumi, Bubur Ayam Bunut Membawa Nuansa Sukabumi kepada siapa saja yang datang ke kota ini. Kesannya, Belum Ke Sukabumi Jika Belum ke Bubur Ayam Bunut….

Rumah Makan Bubur Ayam Bunut Sukabumi seperti nama nya memiliki menu khas yaitu Bubur Ayam, Keroket dan Tulang Ayam yang cita rasa aslinya tetap terjaga sejak 30 tahun yang lalu. Selain Bubur Ayam, kami menyediakan beraneka ragam menu lainnya yang akan menggoyang lidah Anda, seperti seperti Sop Buntut Sapi, Nasi Timbel Komplit, Sop Iga, Sop Kaki, bermacam-macam nasi goreng, Roti bakar, Pisang Bakar, dll. Kami juga memiliki berbagai macam minuman khas, seperti Teh Tarik Rempah, Bandrek dan Bajigur serta bermacam-macam minuman lainnya yang dijamin akan menambah kaya pengalaman kuliner Anda di Rumah Makan kami.

Rumah Makan Bubur Ayam Bunut memadukan konsep modern tradisional, dimana pelanggan bisa memilih ruang makan bergaya modern (indoor) atau ruang makan bergaya tradisional dengan konsep saung bambu (outdoor) lengkap dengan Lesehan.

Lokasinya yang berada di daerah dataran tinggi, membuat RM Bubur Ayam Bunut memiliki daya tarik tersendiri karena udaranya yang sejuk. Didukung oleh letaknya yang tidak jauh dari beberapa kawasan wisata alam seperti, taman wisata alam Gunung Gede,  Selabintana, Wisata Arung Jeram Citarik, dan Pantai Pelabuhan Ratu yang sangat terkenal dan menjadi ikon wisata provinsi Jawa Barat.

Bubur Ayam Bunut didirikan oleh H. To’i sekitar Tahun 1975 di Sukabumi. Saat itu H. To’i hanya berjualan dengan berkeliling secara dipikul. Seiring berjalannya waktu H. To’i akhirnya berjualan menggunakan roda dan mangkal di daerah Rumah Sakit Bunut (sekarang R.S.U Syamsudin S.H). Karena berjualan didaerah Bunut itulah nama Bubur Ayam Bunut berasal.

Sekitar Tahun 90-an dikarenakan ada kebijakan dari Kepala Rumah Sakit yang melarang pedagang kaki lima berjualan diareal sekitar Rumah Sakit akhirnya Bubur Ayam Bunut pindah lokasi ke Jl. Siliwangi (seberang lokasi sekarang). Sampai Tahun 2000.

Di tahun 1995 H. To’i  meninggal dunia pada saat melaksanakan ibadah Haji di Tanah Suci Makkah, dan tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Bpk. Firmansyah. Dan anak-anak beliau yang lain memutuskan untuk membuka sendiri Bubur Ayam Bunut di daerah Sukabumi.

Bubur Ayam Bunut dapat kita temui di beberapa lokasi di Sukabumi mulai pukul 06.00 – 23.00 WIB

1. Bubur Ayam Bunut Pusat Jl. Siliwangi no. 93/131.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 15.12

Jumat, 12 Desember 2014

Warung Baso Mang Sarip

Untuk anda yang berada di Sukabumi selatan, seperti Jampangkulon, Waluran, Surade, Ciracap dan sekitarnya pasti tak asing dengan tempat kuliner yang satu ini. y…. dia adalah Baso Mang Sarip. Berada di Jl. Situhiyang Jampangkulon-Sukabumi

Mang Sarip adalah pengelola sekaligus pemilik dari usaha Warung Baso ini. Dia mulai menggeluti usaha Basonya sejak tahun 1990-an, berawal dari dagang baso dorong keliling dari rumah kerumah, dan dari kampung ke kampung menyusuri jalan raya. Namun dia tak perlu cape mendorong, karena dia cukup membunyikan suara mangkok dengan sendok saja, para langganannya pasti pada datang dan mereka seolah tak bosan walau harus makan baso tiap hari. Sayapun mulai mengenal mang sarip ini sejak saya Masuk SMA, dan setiap siang menuju sore pasti mang Sarip ini terkadang nongkrong di depan SMA karena para Guru, TU dan para siswa di sekolah saya itu telah menjadi langgganannya.

Sejak awal tahun 2001, Mang Sarip ini mulai membuka Jongko usaha Baso-nya dan sejak saat itu pula dirinya tak lagi jualan Basonya secara berkeliling tapi dia cukup menunggung pelanggan di jongkonya ini. yang mana usaha warung basonya ini kian hari kian meningkat dan warungnya serta kapasitas usahapun terus di tambah seiring dengan meningkatnya jumlah konsumen yang menjadi pelanggannya. Yang mana dari awal dia jualan Baso berkeliling, tapi akhirnya diapun mampu mempekerjakan banyak saudara-suadaranya di warung basonya ini, sementara Mang Saripnya sendiri kini telah menjadi juragan Baso.

Kelebihan

Baso Mang Sarip telah menjadi ikon kuliner, di Wilayah Sukabumi Selatan ini. setiap orang mengatakan baso mang sarip, pastinya mereka tak asing dengan nama itu. Setiap orang yang telah merasakan Baso Mang Sari pasti akan bilang puas dan diantara mereka mungkin tak ada yang merasa kecewa berjajan Baso di Warung Baso Mang Sarip ini, Mereka justru merasa puas telah menjadi pelanggan Baso Mang Sari ini.

Baso Mang Sarip di senangi oleh masyarakat disana karena kenikamatan yang dihasilkan dari Basonya disaat kita menyantapnya. Basonya itu memang berbeda dengan Baso-baso penjual yang lainnya walaupun disana itu yang jualan Baso cukup banyak sekali.

Dibalik kesuksesan usaha Basonya itu, ternyata mang sarip mempunyai rahasia tersendiri dalam meracik Basonya itu. Baso di buat dari daging sapi asli yang masih segar, di giling dan diolah sendiri oleh dia bersama keluarganya. Daging sapi yang telah di giling di tambah aci khusus dan bumbu-bumbu rahasia. saat di godog, baso di campur dengan gaji dan balung sapi sehingga menghasilkan Baso yang gurih, bahkan ketika dihidangkan di dalam mangkok, balung-balung sapi itu bahkan sengaja di tambahkannya di hidangan mangkok baso pelanggannya, dan itulah yang menjadi ciri khas dari Basonya ini. Jika anda yang suka jajan silahkan datang dan nikmati sendiri hidangannya. Satu mangkok cukup dengan uang kecil yaitu muali dari harga Rp. 5000,-/mangkok.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 22.28

Rabu, 26 November 2014

Sate Padang Mak Syukur – Jakarta Timur

Bagi para penggemar sate terutama untuk sate Padang, tak ada salahnya untuk singgah sejenak ke warung Sate Padang Mak Syukur. Sate ini sudah cukup terkenal di kota Padang Pandjang dan sudah berdiri sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, sekitar tahun 1940-an. Satenya benar-benar khas dari Sumatera Barat. 

Kalau kita belum sempat untuk pergi ke Sumatera, tak perlu khawatir. Karena sate Padang Mak Syukur ini sudah memiliki beberapa cabang di Ibu Kota. Salah satunya yang terletak di Jl. Pengambiran No. 37, Rawangmangun, Jakarta Timur. Untuk menemukannya juga cukup mudah, warungnya didominasi dengan warna hijau dengan title “Sate Padang Mak Syukur Padang Pandjang Sejak Tahun 1941”.

 Warung yang letaknya juga berdekatan dengan Terminal Rawangmangun ini, mulai melayani para pelanggannya dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam setiap hari.
Yang membedakan antara sate Padang Mak Syukur dengan sate lainnya, terletak pada kuah bumbu yang pedasnya khas serta kari kambingnya yang cukup kental. Sehingga membuat sate ini lebih wangi pada saat dipanggang. 

Untuk porsi satenya cukup besar dengan kuah bumbu yang khas, disajikan dengan ketupat yang sudah dipotong-potong dengan wadah yang terpisah. Selain sate Padang, juga tersedia nasi goreng khas Padang yang tidak kalah menarik untuk dicoba.
Dengan porsi sate yang cukup besar hanya dibandrol Rp. 15.000, sedangkan nasi gorengnya dengan Rp. 12.000. Beberapa cabang Sate Padang Mak Syukur yang lainnya, bisa kita jumpai di Mall Kelapa Gading, Pasar Raya Block M dan Pasar Raya Manggarai. Sedangkan untuk yang di Sumatera Barat, ada di Pasar Padang Pandjang dan di Jalan Raya sekitar 60 km dari Kota Padang Pandjang.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 06.34