Irresponsible Journalism: Judul Berita Kalimat Tanya

JANGAN pernah tergoda untuk membaca berita yang judulnya berupa kalimat tanya atau menggunakan tanda tanya di akhir kalimatnya. Pasal...

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2014

Jangan Salah Pilih Bahan Bakar

Bila mesin kendaraan bermotor Anda sering kotor hingga mengalami kerusakan, bisa jadi jenis mesin tidak sesuai dengan bahan bakar yang Anda gunakan. Cegah kerusakan kendaraan dengan cek ketepatan memilih bahan bakar.

Seperti tubuh yang harus diisi dengan makanan bergizi baik, mobil atau motor Anda juga membutuhkan bahan bakar berkualitas baik agar terus terjaga performanya. Untuk mengetahui tepat atau tidaknya bahan bakar yang dipilih untuk kendaraan Anda, kenali dulu mesin mobil atau motor Anda.

Umumnya, mesin kendaraan masa kini dirancang untuk lebih bertenaga, hemat bahan bakar, dan tahan lama kualitasnya. Mesin dengan karakteristik seperti itu memerlukan pelumas dengan mutu baik, pendingin mesin yang efisien, serta bensin berkualitas.

Mesin pada kendaraan modern didesain dengan kapasitas yang tidak terlalu besar agar bisa hemat bahan bakar tetapi tetap menghasilkan tenaga yang besar. Mesin seperti itu biasanya menggunakan kompresi yang tinggi, dengan rasio lebih dari 9:1. Dengan rasio kompresi seperti itu, dibutuhkan bahan bakar dengan Research Octan Number (RON) atau angka oktan minimal 91. Angka oktan merepresentasikan ketahanan bahan bakar terhadap kompresi di dalam mesin. Maka, mesin dengan kompresi yang tinggi membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi.

Bila angka oktan bensin lebih rendah dari yang dibutuhkan mesin, akibatnya mesin jadi lebih panas sehingga tidak dapat bekerja dengan optimal. Yang lebih ekstrem, ketidaksesuaian bahan bakar juga mampu menyebabkan piston rusak dan berlubang.

Gunakan Bahan Bakar yang Tepat

Untuk menghindari kerusakan, pastikan Anda memberi bahan bakar yang tepat untuk mesin kendaraan berkompresi tinggi. Pertamax jawabannya. Dengan angka oktan yang tinggi, bahan bakar ini pas untuk memenuhi kebutuhan mesin mobil atau motor modern Anda.

Bukan hanya bernilai oktan tinggi, bahan bakar tersebut mengandung Ecosave Technology yang mampu menjaga  kemurnian bahan bakar serta mencegah karat dan membersihkan kotoran pada mesin kendaraan. Mesin yang bersih dapat melakukan pembakaran yang sempurna sehingga tenaga yang dihasilkan pun lebih optimal. Dengan demikian, formula Ecosave Technology dapat membuat kendaraan irit bahan bakar serta lebih ramah lingkungan karena mampu mengurangi emisi gas buang.

Layanan Spesial Bagi Pengguna Pertamax

Tidak sulit memperoleh Pertamax dengan Ecosave Technology untuk kendaraan Anda, lantaran bahan bakar tersebut didistribusikan Pertamina di SPBU yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Pertamina juga berekspansi dalam layanan SPBU. Kini, Pertamina menyediakan SPBU Self Service, yang memungkinkan pembeli melakukan sendiri pengisian bahan bakar untuk kendaraannya. Saat ini, SPBU Self Service tersedia pada beberapa lokasi di Jakarta dan Tangerang, yaitu Palmerah, Kebon Jeruk, Petojo Utara, Alam Sutera, Gading Serpong, dan Gading Serenade.

Pembeli Pertamax pun bisa menikmati layanan khusus bagaikan tamu spesial. Di SPBU, kendaraan Anda akan disambut oleh “karpet merah” yang membentang. Layanan red carpet ini diprioritaskan bagi pengguna kendaraan baik roda empat maupun roda dua yang membeli Pertamax , Pertamax Plus atau Pertamina Dex. Pertamina menerapkan layanan khusus tersebut dengan tujuan meningkatkan konsumsi bahan bakar tak bersubsidi. Layanan red carpet kini bisa dinikmati di SPBU yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, Surabaya, dan Medan.

Lindungi kendaraan Anda dari kerusakan dengan memilih b
ahan bakar yang tepat, Pertamax. Anda dapat berhemat 35% setiap membeli Pertamax Series di SPBU bertanda khusus. Caranya, gunakan kartu kredit dan debit Mandiri dan tukarkan powerpoints atau fiestapoint Anda. Dapatkan juga kesempatan membawa pulang Toyota All New Yaris, Honda Revo, dan 100 voucher Pertamax masing-masing sebesar Rp 1.000.000. Program ini berlaku dari 7 November 2014 hingga 31 Januari 2015. Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi call center Pertamina di 500 000. (adv)

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 05.11

Pengaruh Perubahan Sosial Terhadap Masyarakat Desa

Ilustrasi
Perjalanan proses pembangunan tak selamanya mampu meberikan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan di masyarakat desa akan menimbulkan dampak social dan budaya bagi masyarakat. Pendapat ini pada berlandaskan pada asumsi pembangunan itu adalah proses perubahan (sosial dan budaya). Selain itu masyarakat pedesaan tidak dapat dilepaskan dari unsure- unsur pokok pembangunan itu sendiri, seperti teknologi dan birokrasi.

Tekhnologi dan birokrasi merupakan perangkat canggih pembangunan namun dilain sisi perangkat tersebut berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang masih tradisional dengan segala kekhasannya. Apalagi jika unsur-unsur pokok tersebut langsung diterapkan tanpa mempertimbangkan aspek sosial, budaya, agama dan lain-lain, maka jangan harap pembangunan akan berhasil. Pihak birokrasi akan sangat memerlukan usaha yang sangat ekstra jika pola kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat sasaran dan tidak berlandaskan pada kebutuhan masyarakat khususnya di pedesaan.

Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan sumberdaya alamnya dan sebagian besar dimanfaatkan sebagai lahan agrarian. Tak salah jika kemudian kurang lebih enampuluh persen penduduknya berkecimpung di dunia pertanian dan umumnya berada di pedesaan. Dengan demikian, masyarakat desa yang agraris menjadi sasaran utama introduksi tekhnologi segala kepentingan, kemajuan pertanian sangat melibatkan unsur-unsur poko tersebut. Oleh sebab itu, masyarakat agrarislah yang pertama menderita perubahan sosial.

Namun tetap perlu diperhatikan bahwa setiap masyarakat mempunyai “ego”nya dalam segala bidang termasuk aspek tekhnologi dan kebijakan birokrasi. Perubahan yang diharapkan dengan mengintroduksi tekhnologi seharusnya sesuai dengan apa yang menjadi ego masyarakat tersebut, sehingga pola perubahan dapat diterima oleh masyarakat. Karena setiap kebijakan dan introduksi tekhnologi yang diberikan pada masyarakat agraris di pedaesaan akan memberikan dampak perubahan sosial yang multi dimensional.

Pelaksanaan kebijakan teknologi pertanian mempunyai jalinan yang sangat kuat dengan aspek-aspek lainnya. Jika kita perincikan dimensi-dimensi perubahan tersebut, maka akan terlihat sangat nyata terjadi perubahan dalam struktur, kultur dan interaksional. Perubahan sosial dalam tiga dimensi ini, kalau dibiarkan terus akan merusak tatanan sosial masyarakat desa. Maka dari itu sangat dibutuhkan kajian yang sangat mendalam untuk mencegah dampak negatif dari kebijakan birokrasi dan asupan teknologi yang mengiringinya terhadap masyarakat dan aparat yang menjalaninya.

II. 1. Teori Perubahan Sosial
Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan Randall. Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan demokrasi, teori perilaku kolektif, 

II.1.1. Teori Diktator
Teori yang disampaikan oleh Barrington Moore ini berusaha menjelaskan pentingnya faktor struktural dibalik sejarah perubahan yang terjadi pada negara-negara maju. Negara-negara maju yang dianalisis oleh Moore adalah negara yang telah berhasil melakukan transformasi dari negara berbasis pertanian menuju negara industri modern. Secara garis besar proses transformasi pada negara-negara maju ini melalui tiga pola, yaitu demokrasi, fasisme dan komunisme.

Demokrasi merupakan suatu bentuk tatanan politik yang dihasilkan oleh revolusi oleh kaum borjuis. Pembangunan ekonomi pada negara dengan tatanan politik demokrasi hanya dilakukan oleh kaum borjuis yang terdiri dari kelas atas dan kaum tuan tanah.

Masyarakat petani atau kelas bawah hanya dipandang sebagai kelompok pendukung saja, bahkan seringkali kelompok bawah ini menjadi korban dari pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara tersebut. Terdapat pula gejala penhancuran kelompok masyarakat bawah melalui revolusi atau perang sipil. Negara yang mengambil jalan demokrasi dalam proses transformasinya adalah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.

Berbeda halnya demokrasi, fasisme dapat berjalan melalui revolusi konserfatif yang dilakukan oleh elit konservatif dan kelas menengah. Koalisi antara kedua kelas ini yang memimpin masyarakat kelas bawah baik di perkotaan maupun perdesaan. Negara yang memilih jalan fasisme menganggap demokrasi atau revolusi oleh kelompok borjuis sebagai gerakan yang rapuh dan mudah dikalahkan. Jepang dan Jerman merupakan contoh dari negara yang mengambil jalan fasisme.

Komunisme lahir melalui revolusi kaun proletar sebagai akibat ketidakpuasan atas usaha eksploitatif yang dilakukan oleh kaum feodal dan borjuis. Perjuangan kelas yang digambarkan oleh Marx merupakan suatu bentuk perkembangan yang akan berakhir pada kemenangan kelas proletar yang selanjutnya akan mwujudkan masyarakat tanpa kelas. Perkembangan masyarakat oleh Marx digambarkan sebagai bentuk linear yang mengacu kepada hubungan moda produksi. Berawal dari bentuk masyarakat primitif (primitive communism) kemudian berakhir pada masyarakat modern tanpa kelas (scientific communism). 

Tahap yang harus dilewati antara lain, tahap masyarakat feodal dan tahap masyarakat borjuis. Marx menggambarkan bahwa dunia masih pada tahap masyarakat borjuis sehingga untuk mencapai tahap “kesempurnaan” perkembangan perlu dilakukan revolusi oleh kaum proletar. Revolusi ini akan mampu merebut semua faktor produksi dan pada akhirnya mampu menumbangkan kaum borjuis sehingga akan terwujud masyarakat tanpa kelas. Negara yang menggunakan komunisme dalam proses transformasinya adalah Cina dan Rusia.

II.1.2. Teori Perilaku Kolektif
Teori perilaku kolektif mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi sosial. Aksi sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma dan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem sosial seringkali dijumpai ketegangan baik dari dalam sistem atau luar sistem. Ketegangan ini dapat berwujud konflik status sebagai hasil dari diferensiasi struktur sosial yang ada. Teori ini melihat ketegangan sebagai variabel antara yang menghubungkan antara hubungan antar individu seperti peran dan struktur organisasi dengan perubahan sosial.

Perubahan pola hubungan antar individu menyebabkan adanya ketegangan sosial yang dapat berupa kompetisi atau konflik bahkan konflik terbuka atau kekerasan. Kompetisi atau konflik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial bersama untuk merubah norma dan nilai.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 03.34

Jumat, 12 Desember 2014

Musim Mangga, hayoook Panen

Selain mulai memasuki musim hujan, Desa Batu Meranti juga mulai musim buah mangga. Terlihat di pekarangan beberapa rumah warga, buah mangga sudah mulai matang yang aroma wanginya menusuk hidung.

Di desa Batu Meranti memang cukup banyak warga yang menanam pohon mangga. Jenisnya pun bermacam-macam, ada Kueni, Mangga Batu, Mangga Gadung/Mangga Mana Lagi.

Salah satu warga yang mempunyai pohon mangga adalah Bu Bayan. Beliau memiliki pohon mangga jenis Kueni dan Mangga Batu. Menurut Bu Bayan buah mangga tahun ini tidak sebanyak tahun kemarin dikarenakan musim kemarau tahun ini cukup panjang.

“mangga saya udah ada yang mateng. Tapi kan tahun ini kemarau panjang toh, jadi buahnya gak sebanyak tahun kemarin”. Ujar Bu Bayan

Memang jika dibandingkan dengan tahun kemarin buah mangga tahun ini lebih sedikit dan masa panennya tergolong cukup lambat. Namun demikian, mulai matengnya buah mangga berarti saatnya untuk panen.

Bagi warga desa Batu Meranti, buah mangga matang selain dinikmati secara langsung biasanya juga dibuat manisan atau jus mangga. Enaaaak


Diperkirakan panen raya buah mangga akan dimulai bulan depan. Nah, bagi yang ingin berbisnis buah mangga atau ingin menikmati manisan mangga, hayoook berkunjung ke Batu Meranti.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 16.25

Heni Jaladara: Mantan TKI Pembelajar dan Penggerak Komunitas Desa

Heni Jaladara adalah nama pena seorang penulis yang juga mantan TKI. Nama aslinya Heni Sri Sundani, 27 tahun, asal Ciamis, Jawa Barat. Ayahnya buruh tani dan ibunya pernah menjadi buruh pabrik di Bekasi. Heni bukanlah TKI biasa, yang bekerja ke luar negeri sekadar untuk mendapatkan uang dan setelah itu pulang. Ia adalah TKI pembelajar, yang jeli dan cerdas dalam membaca dan memanfaatkan kesempatan di tengah kesempitan. Di samping melakukan kerja rutin s
ebagai pekerja rumahtangga di Hongkong, ia juga bekerja keras untuk menempuh pendidikan tinggi.  Tak heran, setelah enam tahun menjadi TKI, Heni kembali ke Indonesia dengan menyandang gelar sarjana bidang kewirausahaan dari universitas  Saint Mary Hongkong dan sekaligus mengantongi ijasah pendidikan D3 di bidang IT.

Selain kerja keras  untuk meraih sarjananya, selama menjadi TKI Heni juga mengasah diri dengan membaca dan menulis. Dengan itu ia dapat mengenali bakatnya sebagai penulis dan mengasah  ketrampilannya dalam mengolah kata. Tulisannya yang berjudul “Surat Berdarah Untuk Presiden” memenangkan lomba menulis surat untuk Presiden yang diselenggarakan Dompet Duafa. Tulisan itu pula yang mengantarkannya menjadi wakil Indonesia di forum “Ubud Writer”, forum internasional bagi para penulis yang datang dari berbagai negara.

TKI seperti Heni masih terbilang langka. Tidak sedikit memang TKI yang mampu melanjutkan pendidikannya sampai tingkat sarjana. Tetapi mereka menempuh pendidikan tinggi dan meraih   sarjananya setelah kembali ke Indonesia. Sementara Heni menempuh pendidikan tinggi dan meraih sarjananya di saat masih menjadi TKI. Sulit membayangkan bagaimana seorang TKI bisa bekerja di negara orang sambil kuliah. Itulah salah satu prestasi Heni. Bagaimana Heni melakukan itu semua? Apa yang mendorongnya untuk bekerja keras dan menempa diri selagi menjadi TKI? Berikut adalah narasi perjalanan hidup seorang Heni Jaladara hingga menjadi seperti sekarang.

Awal Mula Menjadi TKI
Hidup dan tinggal di desa memang tidak memberinya banyak pilihan. Satu-satunya pilihan yang memberi peluang bagi Heni untuk bisa melanjutkan kuliah adalah menjadi TKI. Inilah yang membuatnya nekat meminta tolong tetangganya untuk mengantarkannya ke kantor PJTKI. Kebetulan tetangganya ini adalah mantan TKI yang baru kembali dari Singapura. Saat itu Heni baru saja lulus SMK, bahkan ijasah pun belum ia terima. Hanya empat bulan Heni berada di penampungan PJTKI dan hanya empat bulan itu pula ia belajar bahasa Kanton. Pada Oktober 2005 ia diberangkatkan ke Hongkong bersama 19 TKI lainnya. 

Pilihan Heni menjadi TKI tidak terlepas dari peran seorang guru bahasa Mandarin sewaktu ia belajar di SMK. Guru tersebut pernah dua tahun bekerja di Korea. Sepulang dari Korea ia melanjutkan kuliah dan kemudian menjadi guru bahasa Mandarin. Guru inilah yang menjadi model bagi Heni dalam memilih jalan hidup. Heni ingin menjadi seperti gurunya, bekerja di luar negeri untuk membiayai kuliahnya dan kemudian menjadi guru.

Dua tahun bekerja di Hongkong Heni digaji di bawah standar. Upah standar pada saat itu Rp 4 juta sebulan, sementara Heni  hanya terima Rp 2 juta sebulan. Bersama 19 TKI lainnya Heni terkena tipu PJTKI pengirimnya. Karena gaji tidak sesuai ketentuan, 18 TKI tidak menyelesaikan kontrak dan kembali ke Indonesia. Sementara Heni bersama satu TKI lain memilih untuk tetap menyelesaikan kontrak. Bukan hanya mendapatkan gaji di bawah standar, identitas Heni juga dipalsukan oleh PJTKI pengirimnya. Tahun kelahirannya diubah. Yang seharusnya 2 Mei 1987, pada paspor tertulis 30 Desember 1983. Saat mengurus paspor, pihak PJTKI melibatkannya hanya pada saat pengambilan foto. Bahkan yang menandatangani paspornya pun bukan dia tetapi pihak PJTKI. Paspor ia terima di bandara, menjelang keberangkatannya ke Hongkong. Pemalsuan data ini pula yang membuat Heni kini tak bisa lagi memasuki Hongkong.

Dengan gaji di bawah standar, Heni tidak memiliki uang cukup untuk bisa melanjutkan kuliah. Apalagi dia masih harus mengirim uang untuk orang tuanya di kampung. Tidak seperti kebanyakan TKI yang memanfaatkan waktu luang untuk jalan-jalan dan berbelanja, Heni lebih suka menggunakan waktu luangnya untuk membaca dan menulis. Menurutnya, daripada mengumpulkan dan menyimpan banyak uang, lebih baik uang itu dipakai untuk pendidikan. “Buat apa punya banyak uang kalau tidak bisa mengelolanya. Lebih baik uang itu dipakai untuk pendidikan”, begitulah cara Heni memanfaatkan hasil kerjanya. Cara pandang ini pula yang membuat Heni lebih memilih belanja buku daripada belanja baju.

Hobi membaca dan menulis membukakan jalan bagi Heni untuk mendapatkan uang tambahan dan informasi seputar pendidikan di Hongkong. Dari koran yang dibagikan gratis di tempat-tempat publik, ia mengetahui tentang kesempatan untuk mengikuti program D3 yang baru dibuka di Hongkong dan juga informasi tentang universitas Saint Mary yang menerima mahasiswa baru angkatan pertama. Sementara koran dan majalah berbahasa Indonesia  yang ada di Hongkong memberinya kesempatan untuk mengasah bakatnya dalam menulis. Ia menulis opini, resensi buku, artikel motivasi, cerpen, dan juga potret kehidupan TKI di koran dan majalah berbahasa Indonesia. Ia juga mengikuti berbagai lomba menulis yang diumumkan di koran dan majalah berbahasa Indonesia itu. Dari hasil menulis dan memenangkan lomba inilah Heni bisa mendapatkan uang tambahan untuk membeli buku.

Gaji di bawah standar selama dua tahun ia manfaatkan untuk membiayai pendidikan, selain membantu orang tuanya di kampung. Belum sampai dua tahun bekerja, ia sudah mendaftarkan diri mengikuti kuliah diploma (D3) bidang IT. Majikannya sama sekali tidak tahu kalau ia kuliah. Sebab kuliahnya hanya berlangsung pada hari minggu. Selebihnya adalah mengerjakan tugas secara mandiri. Tugas dikirimkan via email. Sistemnya seperti universitas terbuka di Indonesia. Tugas kuliah ia kerjakan pada malam hari, tanpa sepengetahuan majikannya. Hasil kerjanya ia sisihkan untuk membeli laptop. Majikan juga tidak tahu kalau Heni memiliki laptop. Sambil mengurus anak sekolah, Heni membawa tas dan buku-buku. Ia juga selalu membawa kertas untuk menulis ide yang sering datang tiba-tiba. Sambil bekerja mengantar dan mengurus anak majikan yang sekolah, Heni membaca, belajar, dan juga menulis. Tugas-tugas kuliah ia kirimkan setelah selesai berbelanja. Biasanya sehabis berbelanja buat majikan, ia mampir dulu ke internet untuk mengirimkan tugas kuliah. Semua ini ia lakukan tanpa sepengetahuan majikan.

Keranjingan Pendidikan
Hani mengaku beruntung, selama bekerja di Hongkong mendapatkan majikan yang baik. Meskipun majikan pertama memberinya gaji di bawah standar, namun Heni tetap menilai majikannya orang baik. Sebab majikan memberinya gaji di bawah standar bukan karena ia mau berlaku curang. Majikan itu sebenarnya ingin sekali membayar Heni dengan gaji tinggi, hanya saja ia benar-benar tidak mampu. Heni menilai majikannya baik karena majikan tidak pernah marah meskipun Heni sering bangun kesiangan. Tidur larut malam demi mengerjakan tugas kuliah membuat Heni sering bangun kesiangan. Majikan juga melarang Heni membersihkan jendela karena khawatir ia jatuh. Ia juga perhatian terhadap kesehatan Heni, termasuk memberinya sarung tangan agar tangan Heni tidak terluka saat mencuci piring.

Setelah menyelesaikan kontrak di majikan pertama, Heni bekerja pada majikan kedua yang memberinya gaji Rp 4 juta sebulan. Selain baik, majikan baru ini juga murah hati. Mereka sering memberinya bonus dan juga membantu membayar uang kuliah Heni. Saat bekerja pada majikan kedua ini, Heni seperti kerbau dicocok hidungnya terkait dengan pendidikan. Di samping mengerjakan tugas-tugas sebagai PRT, Heni benar-benar mencurahkan perhatian dan menggunakan waktunya untuk belajar. Saat itu ia benar-benar keranjingan dengan pendidikan. Ia bertekad, pada saat kembali ke Indonesia nanti ia sudah menjadi sarjana. Ini semua tidak terlepas dari pengaruh majikan kedua. Majikan kedua menjadi model baginya dalam memandang dan menjalani hidup. Heni mengaku, kebaikan majikannya inilah yang banyak mengubah hidupnya.

Majikannya masih muda, berasal dari keluarga miskin yang banyak anak. Ia menjadi orang sukses karena mendapatkan beasiswa dan berhasil meraih pendidikan tinggi.  Tidak seperti kebanyakan majikan dari para PRT di negara tujuan, majikan Heni sangat menghargai PRT-nya. Mereka tahu berempati dengan PRT yang sama-sama berasal dari keluarga tidak mampu. Sebagai PRT, Heni diperlakukan dengan baik. Ia boleh berjilbab, berpuasa, dan juga menjalankan sholat. Bahkan pada saat puasa, majikan memberikan perhatian lebih. Ketika Heni sakit, majikan tidak membolehkannya bekerja. Majikan memaksanya beristirahat sampai benar-benar sembuh. Majikan juga tidak pernah memintanya memasak babi. Kalau ingin makan babi, majikannya memilih makan di luar. Majikan tidak pernah memisah-misahkan makanan. Apa yang dimakan majikan, itu juga yang dimakan Heni. Bahkan majikan selalu mengajaknya makan bersama. Mereka menunggu sampai Heni selesai bekerja, barulah mereka makan bersama.

Dari majikannya yang kedua ini Heni mengaku mendapatkan energi besar untuk belajar, meraih pendidikan tinggi, dan sekaligus menjadi orang baik. Majikan sangat mendukung Heni untuk melanjutkan studi. Dari majikannya ia mendapatkan laptop. Beberapa kali uang kuliahnya juga dibayar majikan. Heni sangat terkesan dengan sikap dan perlakuan majikan pada PRT-nya. Sebelumnya, majikan ini mempekerjakan PRT asal Filipina dan PRTnya ini juga diperlakukan sangat baik.  Meski sudah memiliki PRT baru, majikan masih menjalin kontak dan berkomunikasi dengan mantan PRT-nya yang sudah kembali ke Filipina. Majikan Heni memposisikan PRT benar-benar sebagai yang sejajar dengan dirinya. Heni sendiri merasakan betapa perlakuan majikan padanya lebih dari yang ia harapkan. Begitu banyak kebaikan yang ia terima dari majikannya. Ia dipandang dan diperlakukan benar-benar seperti keluarga sendiri. Heni merasa benar-benar beruntung karena selama ini banyak majikan menuntut PRT-nya bekerja dengan baik sementara mereka tidak memperlakukan PRT-nya dengan baik. Menurut Heni, PRT tidak mungkin bisa bekerja dengan baik bila majikan terus menekan.

Selain bekerja dan belajar, Heni juga peduli pada sesama TKI di Hongkong yang tengah mengalami masalah. Belajar dari kasusnya sebagai TKI yang ditipu PJTKI, Heni tidak ingin ada orang lain yang mengalami penipuan seperti dirinya. Itulah mengapa ia meluangkan waktu untuk aktif di organisasi yang peduli pada TKI, seperti ATKI, IMWU, dan juga Dompet Duafa. Dengan aktif dalam organisasi itu, Heni bisa membantu para TKI lain yang mengalami masalah. Saat itu Heni banyak dikenal para TKI lain karena ia ada di banyak tempat. Ia juga menularkan hobi membacanya pada para TKI. Ia membuka perpustakaan lesehan di Victoria Park, tempat mangkalnya para TKI Hongkong saat liburan. Pada hari Minggu, Heni datang ke Victoria Park dengan membawa banyak buku. Dengan itu ia berharap, banyak TKI yang mau mengisi waktu luangnya dengan belajar dan membaca.

Dibentuk dan Dibesarkan Buku
Kemampuan Heni dalam menulis tidak datang tiba-tiba saat menjadi TKI di Hongkong. Kemampuannya ini tidak terlepas dari hobinya membaca buku. Sudah sejak kecil Heni keranjingan membaca buku.  Semasa di sekolah dasar, Heni tinggal bersama neneknya. Ibunya saat itu menjadi buruh pabrik pensil di Bekasi. Neneknya yang cacat jemari kaki tangannya dan juga buta aksara tak bisa membantunya belajar. Praktis Heni mencari sendiri bahan-bahan untuk belajar.

Saat bersekolah di SD, Heni harus berjalan kaki satu jam menembus hutan karet. Ia sekolah tanpa dibekali uang jajan sebagaimana anak-anak lainnya. Saat anak-anak lain istirahat menghabiskan uang jajan, Heni mengurung diri di ruang perpustakaan. Sebab tidak ada uang untuk ia bisa jajan. Beruntunglah di SD-nya itu ada ruang perpustakaan yang penuh dengan buku. Ruang perpustakaan itu sudah jelek, dinding dan pintunya lapuk, pintunya juga sudah tidak bisa dikunci, dan buku-bukunya pun sudah rusak. Di sana ada buku-buku karya NH Dini, AA Navis, Pramudya Ananta Toer, dan lainnya. Dari buku-buku yang ia baca itulah ia mengenal dunia. Sudah sejak di SD, Heni membaca Rumah Kaca, Gadis Pantai, dan buku-buku karya Pramudya lainnya. Sepanjang enam tahun belajar di SD, pada jam istirahat Heni sendirian berada di perpustakaan. Heni membaca apa saja yang ia bisa baca, termasuk koran pembungkus gorengan.

Saat bersekolah di SMP, Heni masih harus berjalan kaki dengan menempuh jarak dua kali lipat jauhnya dari saat ia bersekolah di SD. Saat di SMP inilah Heni semakin keranjingan membaca buku. Ini dipicu oleh adanya perpustakaan yang besar sekali di sekolahnya. Dorongan dari guru kelasnya untuk menulis, menambah semangatnya untuk membaca buku dan juga menulis. Kegilaannya membaca ini membuat Heni meraih prestasi sebagai pembaca buku terbanyak. Sekolah memberinya buku dan alat tulis sebagai hadiah. Dalam setahun Heni membaca lebih dari 300 buku. Selama tiga tahun di SMP lebih dari 1000 buku telah ia baca.

Sebagai TKI pembelajar, Hongkong punya arti besar bagi Heni. Di sana Heni serasa menemukan “surga”. Sebab di sana ada di banyak perpustakaan dan di sana pula Heni bisa membeli banyak buku. Pada awalnya ia membaca buku anak-anak yang ada gambarnya. Dengan itu ia bisa sekalian belajar bahasa Inggris. Selain menemukan “surga”, di Hongkong  pula Heni menemukan dirinya, mengenali bakatnya, dan sekaligus menyadari bahwa selama ini ia banyak dididik dan dibentuk oleh buku. Memang sudah sejak kecil Heni keranjingan membaca dan menulis, termasuk menulis puisi.  Namun Heni saat itu belum mengenali bakatnya. Heni mengaku, bukulah yang banyak mendidik dan membentuk dirinya hingga menjadi seperti sekarang.  

Motivator dan Penggerak Komunitas Desa
Selepas menjadi TKI, Heni kembali ke desanya, di Ciamis. Ia prihatin dengan kondisi desanya. Sejak ia tinggalkan, tidak tampak adanya perubahan di desanya. Desanya masih tetap miskin. Jalan tetap saja dari tanah. Mayoritas warga tetap hidup dalam kemiskinan. Warga desa tetap jadi buruh tani, tukang ojek, atau buruh bangunan. Heni prihatin, anak-anak yang dulu ia ajari mengaji kini sudah menikah dan tinggal di samping rumah orang tua mereka. Yang lebih mengenaskan lagi,  orang-orang di desanya lebih konsumtif dari sebelumnya. Mereka membeli segalanya dengan cara kredit. Mulai dari HP, TV, baju, motor, tas, sampai sabun mandi semua dibeli dengan cara kredit.

Keprihatinan Heni akan kondisi masyarakat di desanya dan di desa-desa pada umumnya membuatnya bermimpi untuk membangun desa. Apalagi sudah cukup bekal untuk memulai melakukan sesuatu. Ia punya pengalaman menjadi guru di Sekolah Alam yang memberinya ketrampilan untuk menjadi guru yang baik. Ia juga sudah melihat model pengembangan desa pada kampung wisata bisnis di Bogor. Heni memulai langkahnya dengan menyisihkan uang untuk membeli buku bagi anak-anak desa. Setiap kali berkunjung ke kampung-kampung, ia membawa ratusan buku. Beruntung Heni bertemu dengan pasangan hidup yang punya kepedulian dan mimpi yang sama tentang desa dan pendidikan. Bersama suaminya Heni membuat wisata pendidikan pertanian di kampung Jampang, Bogor. Ia memberi nama komunitas untuk wisata pendidikan pertanian itu “Agro Edu Jampang Community”. Komunitas ini berisikan para petani dan keluarganya. Ada kesepakatan bersama antara pihak Heni dan komunitas, yang dituangkan dalam bentuk kontrak. Kontrak ini  mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak, di antaranya: 1) Untuk setiap orang pengunjung, petani mendapatkan rata-rata Rp 15.000; 2) Pengunjung membeli oleh-oleh dan produk souvenir dari petani; 3) pihak Heni membantu komunitas melakukan promosi lewat media TV, koran, dan lainnya; 4) Pihak Heni membantu memberdayakan keluarga petani dalam bentuk pendidikan luar sekolah gratis. Dengan semboyan “Anak Petani Cerdas” Heni bersama timnya memberikan materi pendidikan luar sekolah berupa matematika, bahasa Inggris, jurnalistik, olah raga, pertanian, lifeskill, dan lainnya; 5) Pihak Heni memberikan pendidikan untuk pendidikan karakter dan pengembangan spiritual khusus untuk anak.
Ide membuat wisata pendidikan pertanian ini berawal dari peristiwa di mana PRT yang bekerja di rumah Heni tidak datang karena sakit. PRT-nya ini tinggal di kampung yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Heni. Saat mengunjungi PRT-nya yang sakit inilah Heni mendapati kenyataan, kondisi warga kampung di mana PRT-nya berasal sangatlah miskin. Mereka hidup dalam kondisi tidak layak. Padahal di kampung ini ada banyak potensi pertanian yang bisa dikembangkan. Muncullah ide untuk membuat wisata pendidikan pertanian. 

Kini komunitas wisata pendidikan pertanian yang dibangun Heni bersama suami dan komunitas petani Jampang telah dikenal luas. Heni bukan hanya dikenal sebagai penulis, tetapi juga guru, motivator sekaligus penggerak komunitas desa. Sebagai penulis ia telah melahirkan tak kurang dari 17 buku dalam bentuk novel, kumpulan puisi, kumpulan cerita, dan lainnya. Sebagian besar tulisannya berangkat dari kisah nyata yang diramu dalam bentuk fiksi. Sebagai guru, motivator dan penggerak komuitas desa, Heni banyak menerima undangan untuk menjadi pembicara di berbagai forum diskusi dan seminar, menjadi motivator di dalam dan di luar ruang kelas. Tak ada yang percaya bahwa Heni Jaladara adalah seorang mantan TKI. ***
(sri palupi, peneliti institute ecosoc)


Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 15.59

Kamis, 27 November 2014

Tumbuh ditengah perkembangan dan kecanggihan teknologi Internet

                                      
Salah satu komunitas cyberspace yang paling dinamis dan menjadi actor yang benar-benar aktif membangunan interaksi dan memanfaatkannya jejaring dalam dunia maya, tak pelak ialah kelompok remaja urban atau yang bisa disebut sebagai net generation. Berbeda dengan babay boom yang dibesarkan ketika kehidupan mereka dalam sehari-hari lebih banyak didominasi oleh tayangan dan berbagai acara televise, net generation tumbuh besar dalam konteks akselerasi perkembangan teknologi informasi yang luar biasa cepat.

Kelompok remaja urban di era abad 21 pada dasarnya merupakan bagian dari generasi SMS, generasi virtual atau disebuat juga net generation yang seringkali menghabiskan untuk menggunakan handphone, berhadapan dengan computer, memakai ipod dan ipad, dan mereka berinternet dari pada kegiatan sehari-hari yang lain.

Berkomunikasi dengan HP atau smartphone dan berinternet dengan jejring facebook, twitter maupun media social lainnya, sering kali menjadi aktivitas yang menarik, serta menghabiskan waktu berjam-jam, dan bahkan melebihi waktu yang mereka habiskan waktu berjam-jam, dan bahkan melebihi waktu yang mereka habiskan untuk menonton televise, tidur, atau bermain dengan teman nya.

Dikalangan remaja urban ini, tanpa harus dibatasi kelas social, nyaris semua dari mereka kini telah memiliki handphone untuk menjalin komunikasi lintas wilayah dengan komunitas cyberspace, bahkan lintas benua melalui internet.

Bahkan seorang ilmuan seperti  paul klimsa berpendapat bahwa berselancar di dunia maya merupakan kehidupan dan aktivitas rutin yang bisa dilakukan remaja urban, baik mereka berada disekolah  belajar di rumah atau ketika jalan-jalan ke mal. Dan Indonesia merupakan Generasi SMS. Mengapa saya katakan seperti itu ? karena remaja di Indonesia ini seringkali menggunakan handphone untuk mengirim dan menerima SMS dari teman-teman dan orang lain.
Dikalangan urban, penggunaan SMS sangat menonjol, karena selain lebih murah, juga menjadi alternative sebagai pengisi waktu senggang yang menyenanngkan. Adapun SMS lebih banyak untuk melakukan komunikasi pendek dalam bentuk pesan yang sifatnya informatif.

Dizaman yang sekarang ini, lebih dari sekedar handphone, dikalangan remaja urban perangkat teknologi informasi yang makin popular adalah ipod, ipad, laptop dengan kekuatan turbo, dan berbagai perangkat teknologi informasi yang semakin canggih, makin cepat, dan juga makin trendy. Mungkin kita bisa melihat tidak sedikit remaja sekarang ketika mereka berjalan-jalan di sepanjang koridor tempat perbelanjaan, ditangan mereka selalu tergenggam BlackBerrry.

Bahkan ketika mereka beristirahat di EXelso, Café Bean, atau yang lainya dihadapan mereka ada laptop yang tengah terbuka:menawarkan sebuah keasyikan tersendiri bagi remaja urban karena mereka dapat berselancar di dunia maya tanpa harus khawatir dengan biaya karena di zone free wifi

Penulis : Irwan Adiansyah


Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 22.08

Rabu, 19 November 2014

Ghibah (gosip),


Membicarakan keburukkan orang lain, apabila benar disebut Ghibah (gosip), apabila salah disebut mem-Fitnah.


Orang yang senang ber-ghibah adalah ciri orang yang kurang kerjaan, kurang etika dan kurang iman. Mereka menceritakan aib saudaramu dan dia dalam keadaan ghaib (tidak hadir di hadapanmu).

Ghibah juga kanibal karena mengumpat, mencemooh, mempermalukan seseorang seperti memakan daging saudaranya sendiri

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari).


QS.49-Al-Hujurat:12
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa.  Dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain,  dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.  Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tubat lagi Maha Penyayang.”


QS.17-Al Israa':53
"Dan katakanlah kepada hamba² KU: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

QS.28 Al-Qashas:55 :
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya.  Dan mereka berkata: "Bagi kami amal² kami dan bagimu amal² mu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin bergaul dengan orang² yg jahil"

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” 
[H.R. Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 14.41

Senin, 17 November 2014

Manfaat Dan Resiko secangkir Kopi


Segelas kopi di pagi hari bukan menjadi kebiasaan lagi, tetapi saat ini sudah menjadi tren atau gaya hidup.


Berbagai kedai kopi menawarkan berbagai jenis kopi dan variasinya. Namun, tahukah Anda manfaat dan efek samping yang terkandung di balik secangkir kopi?

Di dalam kopi mengandung zat bernama kafein, yang juga terdapat dalam daun teh. Seberapa besar kandungan kafein yang ada dalam secangkir kopi tergantung dengan penyajiannya. Dosis mempengaruhi efek samping yang akan dialami oleh peminum kopi ataupun minuman berkafein lainnya.

Dosis yang rendah akan membuat anda merasa waspada dan enerjik, sedangkan jika Anda meminum dengan dosis yang lebih tinggi, Anda akan merasa lebih gelisah, mudah tersinggung, dan sulit tidur.

Semakin banyak kafein yang Anda minum, maka akan melemahkan kelenjar adrenal, menguras nutrisi dan mengganggu hormon. Kafein pun membuat penikmatnya ketagihan. Namun, banyak penelitian kesehatan menyebutkan bahwa jika meminum kopi atau teh dalam jumlah yang normal, tidak akan mengganggu kesehatan seseorang.
Bahkan, beberapa penelitian menyebutkan jika meminum satu atau dua cangkir kopi sehari dapat membantu meningkatkan fungsi memori di usia tua, bahkan dapat membantu mencegah diabetes.

Bagi Anda peminum kopi lebih dari tiga gelas sehari, Anda harus lebih berhati-hati dan mengurangi kopi perlahan. Terlalu banyak zat kafein yang masuk ke dalam tubuh akan membuat orang insomnia, gugup, gelisah, gangguan pencernaan, dan menyebabkan jantung berdebar.

Dosis segelas kopi harian yang benar sesungguhnya kembali lagi kepada genetik setiap orang, karena respon terhadap kafein setiap orang berbeda-beda. Ada yang meminum satu cangkir kopi di pagi hari dan tidak bisa tidur selama berhari-hari. Ada juga yang meminum double espresso dan bisa langsung terlelap di tempat tidur.

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 13.22

Minggu, 19 Oktober 2014

Desa Cibuntu dan pahlawan jalan

Desa Cibuntu, Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi
keindahan alam Desa cibuntu yang kaya akan tanaman padi dan tanaman sayuran ,membuat Desa kami menjadi serba berkecukupan, bila pagi, masyarakat sibuk dengan aktifitas nya masing-masing, mulai dari bertani sampai berdagang, dengan panen yang cukup memuaskan, kemajuan desa kami patut kita acungkan jempol, ada juga sebagian petani dari desa kami, menjual hasil panennya ke pasar , keuntungan yang di raup sangat memuaskan, namun seiring kemajuan jaman, dan kemajuan tekhnologi dimana mana, para petani sangat cemas dengan biaya transportasi yang melambung tinggi akibat naiknya BBM, sehingga para petani di desa kami sekrang mulai melemah SDA yang selama ini mereka tekuninya, para angkot di Desa kami pun mengeluh setelah adanya kenaikan BBM, ''Saya akan turunkan biaya transfortasi dengan syarat , pihak Pemerintah mampu membangun jalan dengan baik'' ujar salah satu supir angkot dari desa kami, selama ini warga Desa kami sangat membutuhkan sarana jalan yang layak, oleh karena itu kepada pihak aparatur pemerintah untuk serius menangani permasalahan ini, ''abdimah pak hoyong pisan ningal jalan cibuntu lecuir, tapi teu acan aya hiji oge pahlawan anu nyaekeun jalan desa cibuntu, '' ujar Kang inchu sala satu warga kampung lembursawah, yang menjadi harapan warga Desa kami adalah, dengan sarana jalan yang baik, maka perekonomian akan mulai membaik, selain perekonomian yang menghambat akibat saran jalan yang kurang baik, kesehatan warga pun menjadi permasalahan yang serius, karena permasalahan tersebut. Tapi meskipun belum terwujud impian warga Desa kami, Warga kami selalu BERHARAP, Semoga ada seorang PAHLAWAN DESA CIBUNTU YANG MAMPU DAN BISA MEMPERBAIKI SARANA JALAN UNTUK LEBIH BAIK.

Sumber : http://desacibuntu.blogspot.com/2011/10/desa-cibuntu-dan-pahlawan-jalan.html

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 00.16

Selasa, 07 Oktober 2014

Petani kampung cibubuay Beralih Tanam Pepaya

Jurnal online. Masyarakat cibubuay, Desa Cibuntu kecamatan simpenan kabupaten Sukabumi, saat ini lagi bergairah membudidayakan tanaman pepaya sebagai bisnis yang menggiurkan. Apalagi ditengah langkanya komoditi ini dipasaran, sehingga membuat harga pepaya jenis Califorina melambung tinggi.
Dilahan area perasawahan yang tadinya selama beberapa tahun ditanam padi harus angkat tangan karena beberapa bulan ini terus merugi. Pada akhirnya masyarakat beralih menjadi petani pepaya.
Satu area lahan persawahan bisa ditanami 100 batang pepaya. Masa tanam sampai panen memerlukan waktu 6-8 bulan. Sedangkan 1 pohon pepaya bisa menghasilkan 60 kg pepaya
Pepaya mini California yang ditanamnya sudah membuahkan hasil saat ini. Pada panen perdana setelah masa tanam 6 bulan masyarakat sudah mengumpulkan 1 ton pepaya  dan mereka menjualnya kepada pengepul.
Menurut salah satu warga pepaya ini memiliki cita rasa manis, serat buah yang padat, dan tidak heran jenis pepaya ini lebih mahal dibandingkan jenis pepaya yang lainnya selain itu jenis peaya kalifornia ini tatamannya rendah ukuran satu meter paling tinggi 1,5 ,





Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 17.38

Senin, 08 September 2014

BERHENTILAH MEROKOK DENGAN BUAH-BUAHAN DAN SAYURAN

BANYAK cara dilakukan orang untuk berhenti merokok. Kini ada satu lagi metode yang direkomendasikan para ahli yaitu makan buah-buahan dan sayuran. Menurut penelitian University at Buffalo, makan lebih banyak buah dan sayuran dapat membantu anda berhenti merokok dan tetap bebas tembakau lebih lama.
Perokok yang mengkonsumsi buhan-buahana sayuran selama 14 bulan memiliki kecenderungan tiga kali lebih besar untuik menjauhi sumber nikotinnya minimal selama 30 hari dari pada orang-orang yang tidak makan selama itu.
Partisipan d kelompok pertama juga merokoklebih sedkit dalam sehari dan bisa menunggu lebh lama untuk bisa menghisap rokok pertamanya hari itu, padahal keduanya merupakan tanda-tanda bahwa partisipan berusaha untuk menolak kebiasaan itu.
  "Kecanduan rokok dan makanan berkaitan erat dan saling membingungkan satu sama lain,"ungkapan ketua tim peneliti Jeffrey Haibach, MPH, seorang asisten peneliti dan mahasiswa pascasarjana di University at Buffalo. "Dengan makan makanan yang mengandung serat tinggi maka Anda akan merasa lebih kenyang sehingga bisa menghindari keinginan untuk merokok atau nyemil."
Lagi pula buah-buahan dan sayuran membantu rasa rokok menjadi ebih buruk, tandas Joseph McClernon, Ph.D., direktur Tobavvo Neuroscience Research Lab di Duke University. Selain buah-buahan dan sayuran, Anda juga bisa memanfaatkan alternatif bahan makanan lain untuk membantu Anda berhenti merokok seperti dikutif dari menshealth berikut ini.

1. Susu
 Susu membuat rokok tearasa aneh. Peneliti dari Duke University menemukan bahwa perokok cenderung tidak ingin merokok setelah minum susu atau ada aroma dan rasa susu di dalam mulutnya. Anda pun bisa menambahkan susu lebih banyak pada pola makan Anda karena ini adalah sumber protein.

2.Permen
 Sejak licorice juga digunakan sebagai penyedap rasa dalam sebatang rokok, mencicipi permen dapat memuaskan hasrat seorang perokok. Tetapi manfaatnya tidak berhenti sampai disitu saja karena licorice juga dapat membantu Anda mengatasi stres.
Peneliti menyatakan bahwa permen bisa menjaga kelenjar adrenalin Anda yang biasanya mengalami kerusakan paling parah akibat stres.

    

Posted by Romeltea Media
Budaya Indonesia Updated at: 03.58